background

BERITA

Tiga Guru Besar Pertama IAHN Gde Pudja Mataram Dikukuhkan Dirjen Bimas Hindu


Image

Mataram - Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. I Nengah Duija, M.Si., kukuhkan tiga dosen yang memperoleh jabatan fungsional guru besar (professor) pertama IAHN Gde Pudja Mataram. Bertempat di Aula Lantai 3 Gedung Rektorat IAHN Gde Pudja Mataram, tiga guru besar yang dikukuhkan tadi pagi merupakan guru besar pertama yang berasal dari dosen tetap di IAHN Gde Pudja Mataram.

Tiga guru besar yang dikukuhkan oleh dirjen Bimas Hindu antara lain:
Prof. Dr. Ir. I Wayan Wirata, A.Ma., S.E., M.Si., M.Pd., sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Sosiologi Agama;
Prof. Dr. Siti Zaenab, S.Ag., M.Pd., CiQaR., sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen PAUD;
Prof. Dr. I Nyoman Wijana, S.Sos., M.Si., M.Pd., sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan.

Dalam momen pengukuhan Guru Besar ini memperlihatkan prestasi yang gemilang dan sangat membagakan bagi segenap civitas akademika IAHN Gde Pudja Mataram dan patut mendapat apresiasi semua pihak.

Ketiga Profesor yang dikukuhkan pada hari ini merupakan sosok-sosok yang telah membuktikan keahliannya dibidang masing-masing ilmu dan menjadi bukti nyata dalam menciptakan dan mendukung keunggulan akademik IAHN Gde Pudja Mataram. Pengukuhan Guru Besar ini ditandai dengan pemasangan Samir dan kalung tanda kehormatan kepada masing-masing guru besar dan dilakukan oleh Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI.

Pada sambutannya seusai mengukuhkan tiga guru besar, Dirjen Duija berpesan agar para dosen yang dikukuhkan sebagai professor agar mampu menjadi guru besar yang mampu menunjukan kemampuannya secara akademis buka semata bangga dipanggil professor tetapi harus mampu mengemban tanggung jawab besar sebagai professor.
“Menjadi guru besar itu bahagianya paling sebulan saja, setelah itu justru para guru besar akan terbebani oleh kewajiban-kewajiban besar. Guru besar setiap semester harus mampu menerbitkan artikel pada jurnal internasional. Jadi jika guru besar ini tidak suka menulis, justru menjadi guru besar adalah awal dari penderitaan” ungkapnya disambut gemuruh audien yang hadir di Aula Lantai 3.
Dirjen Duija juga berpesan agar para professor harus mampu juga berkolaborasi dengan masyarakat karena ia adalah panutan bagi masyarakat. “Jika jabatan guru besar tetapi tidak pernah menjadi pembicara di masyarakat, percuma jabatan guru besar itu” tegasnya. (pm)

Bagikan berita: