Prof. Nengah Duija, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama Republik Indonesia, menegaskan pentingnya peran aktif dosen dan guru besar untuk turun langsung ke masyarakat serta memperkenalkan diri sebagai bagian dari pengabdian dan kontribusi nyata bagi umat Hindu. Hal tersebut disampaikan dalam Sidang Senat Terbuka dalam rangka Dies Natalis ke XXV dan Wisuda Sarjana ke XXV serta Wisuda Pascasarjana ke-XII IAHN Gde Pudja Mataram, Sabtu (21/2/2026), di Aula Lantai 3 Rektorat IAHN Gde Pudja Mataram.
“Saya ingin kampus ini menjadi kampus berdampak. Mari para dosen dan mahasiswa turun ke masyarakat. Jadilah dosen dan guru besar yang dikenal dan dikenang oleh umat. Mulailah memperkenalkan diri ke masyarakat sebagai wujud pengabdian kita,” tegas Prof. Duija.

Menurutnya, perguruan tinggi keagamaan Hindu tidak cukup hanya menjalankan fungsi akademik di dalam kampus, tetapi juga harus hadir di tengah masyarakat sebagai solusi atas berbagai persoalan sosial dan keagamaan. Dosen dan guru besar diharapkan mampu menjadi figur pemersatu serta penggerak harmoni umat. Selain itu, Prof. Duija juga mendorong para dosen muda untuk terus meningkatkan kapasitas akademik dengan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di kampus kampus terbaik, termasuk memanfaatkan peluang beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
“Dosen-dosen muda harus berani melanjutkan studi di luar. Jangan kuliah di tempat yang sama, apalagi di kampus sendiri. Kita perlu pengalaman, jejaring, dan perspektif baru untuk memperkaya kampus ini,” pesannya.

Ia menekankan bahwa mobilitas akademik menjadi kunci dalam membangun kualitas perguruan tinggi yang unggul dan kompetitif. Dengan pengalaman belajar di luar daerah bahkan luar negeri, dosen diharapkan mampu membawa inovasi serta memperluas wawasan keilmuan di lingkungan kampus. Dalam kesempatan itu, Prof. Duija juga kembali mengingatkan pentingnya menjaga kesamaan persepsi tentang spiritualitas dan makna upacara keagamaan agar nilai-nilai luhur tidak tergerus oleh kepentingan pragmatis.
“Kita ini termasuk generasi penikmat, bukan generasi pejuang. Jangan sampai generasi berikutnya menjadi generasi penjual jika tidak ada persepsi yang sama tentang spiritualitas upacara keagamaan,” ujarnya.

Momentum Dies Natalis ke-25 ini diharapkan menjadi titik tolak penguatan sinergi antara kampus, rektorat, PHDI, tokoh umat, dan tokoh puri dalam membangun pendidikan Hindu yang unggul, adaptif, dan berdampak luas bagi masyarakat.
BY:P26