Sumbawa— Umat Hindu di Kecamatan Ree menggelar Dharma Santi dalam rangka menyambut Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948 di Banjar Amerthasari, Sabtu (21/3). Kegiatan berlangsung khidmat dan dihadiri tokoh akademisi, pemuka agama, serta masyarakat setempat. Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Senat IAHN Gde Pudja Mataram, Prof. Dr. Drs. I Nyoman Murbha Widana, M.Ag., yang memberikan Dharmawacana sekaligus menyosialisasikan Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) kepada masyarakat.

Acara diawali dengan penampilan seni dari Sanggar Ganesha yang membawakan Tari Blibis dan Tari Taman Sari. Suasana semakin religius saat siswa-siswi SMA Negeri Ree melantunkan Sloka dan Weda Wakya sebagai pembuka kegiatan inti. Ketua panitia, Nengah Gunada, menyampaikan bahwa Dharma Santi ini terselenggara berkat gotong royong masyarakat Banjar Amerthasari. Ia menyebut kegiatan tersebut menjadi wadah mempererat silaturahmi dan kebersamaan umat Hindu di Kecamatan Ree.

Dalam Dharmawacana bertajuk “Pentingnya Jnana dalam Catur Brata Penyepian”, Prof. I Nyoman Murbha Widana menjelaskan makna Nyepi dari sudut pandang ilmiah dan spiritual dengan merujuk pada Lontar Aji Swamandala dan Sunarigama. Ia menguraikan bahwa Amati Gni atau tidak menyalakan api dapat dimaknai sebagai praktik puasa yang bermanfaat bagi kesehatan, seperti membantu proses detoksifikasi tubuh dan meningkatkan konsentrasi pikiran. Selain itu, api juga dimaknai sebagai simbol amarah yang harus dikendalikan selama Nyepi.
“Nyepi merupakan momentum untuk menahan hawa nafsu, termasuk amarah. Jika masih marah, maka makna Brata Penyepian belum sepenuhnya dijalankan,” ujarnya.
Selain Dharmawacana, kegiatan juga diisi dengan sesi dharmatula oleh Dr. Ida Made Windya yang mengangkat tema “Jnana Sidhi: Transformasi Diri Melalui Pendidikan yang Berlandaskan Kesucian Pikiran”. Ia menekankan pentingnya menjadikan Nyepi sebagai titik refleksi untuk meningkatkan kualitas diri melalui pendidikan.

Sementara itu, Ketua PHDI Kabupaten, Nyoman Mandi, mengingatkan pentingnya implementasi nilai-nilai Catur Brata Penyepian dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga menyarankan agar pelaksanaan Dharma Santi ke depan dilakukan secara bergilir di setiap banjar di Kecamatan Ree guna memperluas partisipasi masyarakat.

Melalui kegiatan ini, umat Hindu diharapkan tidak hanya memahami makna Nyepi secara ritual, tetapi juga mampu mengimplementasikan nilai-nilai pengendalian diri dalam kehidupan sehari-hari.
By:P26