Ribuan umat Hindu dari berbagai wilayah di Nusa Tenggara Barat (NTB) memadati kawasan Pantai Melase, Batu Layar, pada Sabtu (14/3). Kehadiran mereka untuk mengikuti Upacara Melasti sebagai rangkaian menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 atau tahun 2026 Masehi. Kegiatan sakral tersebut turut dihadiri Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, bersama tokoh adat, organisasi masyarakat Hindu, tokoh masyarakat, serta perwakilan dari umat Muslim. Kehadiran berbagai unsur masyarakat ini menjadi gambaran nyata kuatnya toleransi dan kerukunan antarumat beragama di NTB.

Tokoh masyarakat Sasak yang juga akademisi, Dr. H. Lalu Sajim, tampak hadir bersama sejumlah tokoh lintas agama sebagai bentuk dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan keagamaan tersebut. Dalam sambutannya, Gubernur Lalu Muhamad Iqbal menyampaikan bahwa hubungan antara umat Hindu dan umat Muslim di NTB selama ini terjalin dengan sangat baik dan penuh rasa saling menghormati.
“Saya yakin sahabat-sahabat saya, umat Hindu dan umat Muslim di NTB, sangat kuat menjaga toleransi dan kedamaian. Ini adalah modal besar bagi daerah kita,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan ucapan selamat kepada umat Hindu dan umat Muslim yang akan merayakan hari raya besar dalam waktu berdekatan.
“Selamat menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 dan selamat menyambut Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. Semoga momentum suci kedua hari raya ini membawa kedamaian, keharmonisan, serta semakin mempererat persaudaraan antarumat beragama. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melimpahkan anugerah, kesehatan, keselamatan, dan kebahagiaan bagi kita semua,” ungkapnya.

Sementara itu, Rektor Institut Agama Hindu Negeri Gde Pudja Mataram, I Wayan Wirata, menjelaskan bahwa Melasti menjadi momen penting bagi umat Hindu untuk melakukan refleksi diri dan penyucian pikiran.
“Melasti menjadi momentum bagi umat Hindu untuk merefleksikan diri, membersihkan pikiran, serta memperkuat hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. Nilai-nilai inilah yang perlu terus ditanamkan kepada generasi muda agar tradisi luhur ini tetap terjaga dan diwariskan,” ujarnya.
Ia juga menambahkan, “Penerimaan Mahasiswa Baru di IAHN Gde Pudja Mataram saat ini telah dibuka dengan berbagai pilihan program studi mulai dari Diploma (D3), Sarjana (S1), Magister (S2), hingga Doktor (S3). Kami juga memberikan kesempatan luas kepada generasi muda karena pendaftaran untuk program D3 dan S1 tidak dipungut biaya, sehingga diharapkan semakin banyak generasi muda yang dapat melanjutkan pendidikan tinggi dan menjadi sumber daya manusia yang unggul serta berkarakter,” ujarnya.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi NTB, I Wayan Karioka, menjelaskan bahwa Upacara Melasti merupakan salah satu ritual penting dalam rangkaian perayaan Nyepi bagi umat Hindu.
“Melasti adalah ritual penyucian diri atau Buana Alit dan alam semesta atau Buana Agung. Upacara ini biasanya dilaksanakan dua hingga empat hari sebelum Nyepi di sumber mata air suci seperti pantai atau danau. Tujuannya untuk menghanyutkan kotoran batin dan benda-benda sakral ke laut agar umat dapat menyambut Tahun Baru Saka dengan jiwa yang bersih,” jelasnya.

Di sisi lain, Kabid Bimas Hindu Provinsi NTB, I Gd Suberata, menambahkan bahwa Melasti memiliki makna spiritual yang sangat mendalam bagi umat Hindu.
“Tujuan Melasti adalah menyucikan diri dan energi negatif atau letuhing bhuwana, sekaligus memohon tirta amerta atau air kehidupan. Melasti merupakan rangkaian awal perayaan Nyepi yang akan dilanjutkan dengan Tawur Kesanga atau Mecaru sebelum umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian,” jelasnya.
Sementara itu, tokoh masyarakat yang juga keturunan Kerajaan Cakranegara ke-IX, Anak Agung Made Jelantik Agung Barayang Wangsa, mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga nilai toleransi dan kerukunan yang telah terpelihara dengan baik di NTB.
BY:P26