Ratusan umat Hindu di Nusa Tenggara Barat melaksanakan upacara suci Segara Kertih di Pantai Melase, Batulayar, Kabupaten Lombok Barat, pada Senin (16/2/2026). Ritual keagamaan ini menjadi simbol komitmen umat Hindu dalam menjaga kelestarian laut serta mewujudkan keharmonisan antara manusia dan alam semesta. Kegiatan yang mengusung tema “Melalui Pelepasan Tukik (Anak Penyu) pada Acara Segara Kertih, Kita Realisasikan Ekoteologi Tri Hita Karana Demi Harmoni dan Lestarinya Alam Semesta” tersebut merupakan bagian dari ajaran Sad Kertih, yakni nilai luhur dalam agama Hindu yang menekankan kewajiban manusia menjaga sumber kehidupan seperti laut, hutan, dan danau.

Rektor IAHN Gde Pudja Mataram, Prof. Dr. Ir. I Wayan Wirata, A.Ma., S.E., M.Si., M.Pd., menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan upacara Segara Kertih sebagai upaya menjaga keseimbangan alam melalui pendekatan spiritual.
“Menjaga keseimbangan alam semesta memerlukan upaya spiritual yang diwujudkan melalui pelaksanaan yadnya Segara Kertih. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan menjaga keharmonisan lingkungan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pelestarian berbagai spesies serta peningkatan kualitas lingkungan hidup, sehingga tercipta keseimbangan antara manusia, alam, dan seluruh makhluk hidup,” jelasnya.

Sementara itu, Bupati Lombok Barat, Lalu Ahmad Zaini, turut memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut serta menekankan pentingnya kesadaran bersama dalam menjaga lingkungan.
“Kegiatan Segara Kertih patut diapresiasi karena mencerminkan kepedulian terhadap kelestarian alam. Menjaga lingkungan merupakan kewajiban moral bersama yang harus diwujudkan melalui semangat gotong royong demi keberlanjutan kehidupan,” ujarnya.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Barat, I Wayan Karioka, menegaskan bahwa Segara Kertih tidak hanya dimaknai sebagai tradisi keagamaan, tetapi juga bentuk tanggung jawab spiritual sekaligus kepedulian terhadap lingkungan.
“Sumber-sumber kehidupan dalam keyakinan umat Hindu harus dijaga dengan baik. Ada Danu Kertih di danau, Wana Kertih di hutan dan gunung, dan Segara Kertih di laut. Laut merupakan sumber kehidupan yang wajib dirawat bersama,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pelaksanaan Segara Kertih merupakan implementasi ajaran Tri Hita Karana, khususnya aspek Palemahan, yakni menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan alam semesta sebagai bagian dari keseimbangan kehidupan.Kegiatan ini juga sejalan dengan program penguatan ekoteologi yang digagas oleh Kementerian Agama Republik Indonesia yang mendorong umat beragama menjadikan ajaran agama sebagai landasan dalam pelestarian lingkungan hidup. Nilai spiritual tidak hanya diwujudkan melalui ritual ibadah, tetapi juga melalui tindakan nyata dalam menjaga kelestarian bumi.

Rangkaian upacara dilaksanakan secara sakala dan niskala, dimulai dari prosesi mecaru, pementasan tari sakral, pertunjukan Topeng Sidakarya, persembahyangan bersama, pelepasan tukik atau anak penyu ke laut, hingga pengambilan air suci (amerta) yang disimpan dalam botol. Seluruh rangkaian tersebut mengandung makna penyucian alam sekaligus pemulihan keseimbangan ekosistem.

Upacara Segara Kertih dilaksanakan secara rutin setiap tahun di berbagai lokasi, baik di laut, hutan, maupun danau, sebagai bentuk konsistensi umat Hindu dalam menjaga kelestarian alam dan lingkungan. Antusiasme ratusan umat yang memadati kawasan Pantai Melase menunjukkan tingginya komitmen bersama dalam merawat alam sekaligus memperkuat nilai spiritual dalam kehidupan bermasyarakat.
BY:P26